IDR
  • IDR

Enjoy Free Shipping for every purchase above 400K rupiah

5 Langkah Praktis Merayakan Body Diversity dalam Komunitas Yoga

5 Langkah Praktis Merayakan Body Diversity dalam Komunitas Yoga

Halo, minimates! Sebagai makhluk yang butuh bersosialisasi, kita pasti pernah mingle ke sebuah komunitas untuk berbagi hal-hal yang kita suka, termasuk yoga. Kita juga pastinya sering banget melakukan yoga bersama teman, kenalan, serta kerabat agar merasa lebih relatable dan mencapai tujuan terasa lebih menyenangkan. Tentunya, kita saling memberikan dorongan satu sama lain supaya lebih semangat. 

Namun, bentuk dorongan seringnya terikat secara budaya dan sifatnya personal, jadi pasti memiliki arti yang berbeda bagi masing-masing orang. Pasti minimates pernah mendapati kata-kata penyemangat dari teman atau kerabat yang bilang kalau minimates akan mendapatkan badan yang lebih kencang jika melakukan pose tertentu. Apa yang minimates rasakan ketika seseorang berkata seperti itu kepada minimates?

Mungkin niatnya hanya untuk memberikan semangat, tapi hal tersebut bisa menghasilkan persepsi yang berbeda untuk orang yang berbeda, lho. Sentimen negatif terkadang muncul dan menyelinap sehingga nggak jarang kita malah menyemangati dengan kalimat yang salah. 

Percaya atau nggak, kita memang masih berkubang dalam narasi yang mengatakan bahwa beberapa tubuh “lebih baik” dari yang lain; bahwa beberapa tubuh itu nggak lovable, nggak desirable, invisible, dan bahkan menyedihkan. Kita semua punya narasi seperti itu di kepala kita dan sepenuhnya jadi keputusan kita mau mempercayainya, menyembunyikannya, atau malah mengubahnya. Pengaruh dan narasi budaya yang merugikan akan terus ada, tapi kita juga bisa banget belajar buat berperilaku dan berbicara secara berbeda melalui beberapa latihan. 

Photo by Yan Krukov from Pexels

Nah, ada beberapa cara yang bisa minimates lakukan ketika belajar, atau bahkan mengajar, yoga sebagai dorongan untuk menjadikan komunitas yoga sebagai komunitas yang bisa merangkul dan menerima berbagai bentuk tubuh sehingga membuat semua orang merasa dicintai dan dihargai. 

Ubah subjek kalimat ketika kita berusaha memberikan opsi yoga baik kepada diri sendiri maupun orang lain

Dalam melakukan yoga, sadari bahwa yoga sendiri adalah sebuah puzzle dan pose, props, tubuh, kemampuan, serta emosi kita merupakan potongan-potongan yang harus disatukan agar membentuk sebuah harmoni. Dalam hal ini, pastikan juga bahwa kita nggak menjadikan badan sebagai suatu masalah yang harus diselesaikan. Jadi, daripada bilang “badanku terlalu besar/kecil buat muat sama prop ini” atau “badanku terlalu besar buat pose ini”, mending bilang “prop/pose ini bukan prop/pose yang tepat buat badanku. Ayo cari prop/pose yang cocok buat badanku.” 

Kurangi menggunakan kata-kata yang mengandung hierarki untuk menunjukkan kemampuan

Seringkali kita menemukan penggunaan kata-kata seperti pemula, menengah, dan lanjutan dipakai untuk mengelompokkan postur dalam yoga. Coba ganti dengan kalimat sederhana seperti “kalau kamu mau, coba pose ini.” atau malah spesifik ke kebutuhan lawan bicara kita, seperti “kalau kamu ingin fokus menenangkan tubuh/meningkatkan detak jantung, coba gerakan ini.”

Hormati pace dan ritme orang lain

Dengan tubuh dan kemampuan yang beragam, setiap orang pasti punya pace dan ritme mereka dalam menguasai satu gerakan yoga. Menghormati kemampuan mereka dan memberikan waktu ke mereka bisa jadi langkah yang baik untuk menciptakan atmosfer yang inklusif di komunitas yoga. 

Mulai percakapan soal yoga dan struggle kita  

minimates bisa memulainya dengan cerita soal diri sendiri, struggle, serta pendapat minimates soal hierarki dan budaya yang ada di dalam komunitas yoga. Hal ini bisa jadi refleksi juga buat teman dan rekan yoga minimates. Orang sering tidak akan memberi tahu kita hal-hal yang menurut mereka akan menyakiti kita jika kita terlalu emosional. Kita harus membuat topik ini terasa seperti percakapan biasa.

Dengarkan cerita orang lain soal yoga dan struggle mereka 

Selain untuk menambah perspektif kita soal cerita-cerita yang mungkin beragam, mendengarkan cerita orang lain juga bisa jadi cara kita untuk membuat orang lain merasa dihargai dan dianggap penting keberadaannya. 

Yoga bukan hanya merupakan sarana kita untuk jadi lebih bugar dan sehat, tapi juga bisa jadi wadah kita untuk belajar soal persepsi kita soal tubuh. Semoga kita semua bisa berbaik hati pada diri sendiri dan orang lain ya, minimates.


Featured image by Yan Krukov from Pexels

Leave a comment

Please note, comments must be approved before they are published

Loading...