IDR
  • IDR

Enjoy Free Shipping for every purchase above 400K rupiah

Mari Berkebun, Mari Kembali ke Alam dan Belajar Kehidupan

Mari Berkebun, Mari Kembali ke Alam dan Belajar Kehidupan

Halo, minimates! Kali ini minimin mau ngobrolin soal hobi yang akhir-akhir ini lagi digandrungi banget sama banyak orang, yaitu berkebun. Berkebun jadi salah satu pilihan hobi yang dianggap bisa membantu kita buat kembali ke alam. Berkebun, selain memberikan manfaat yang tentu saja berlimpah, ternyata mampu mengajari kita tentang hal-hal yang mendalam soal kehidupan lho, minimates. 

Menurut David Cooper dalam bukunya yang berjudul A Philosophy of Gardens, kebun merupakan sebuah kontribusi yang bisa jadi bagian besar untuk sebuah ‘kehidupan yang baik’, yang bisa ditanami kapasitas dan kekuatan karakter. Hal ini dipercaya jadi latihan untuk tahu cara yang tepat dalam bertindak atas masalah kita, merasakannya, dan mengavaluasinya. Dengan kata lain, berkebun bisa jadi medium untuk kita belajar problem solving dan merupakan kegiatan yang meditatif karena kita kembali ke mother nature. Yang berarti tempat yang tepat bagi kita sebagai manusia untuk earthing dan grounding sehingga dapat memperoleh gelombang elektrik bumi yang bermanfaat untuk tubuh kita. 

Melalui praktik-praktik berkebun, seperti menanam benih, mengolah, dan memangkas, kita sebenarnya telah memberikan kesempatan pada sesuatu yang alami untuk tumbuh dari bumi. Untuk memperoleh hasil yang baik, kita perlu present dan fokus sehingga bisa menghasilkan manfaat yang lebih besar lagi untuk diri sendiri dan sekitar. Kegiatan seperti inilah yang mampu mengajari kita makna-makna dalam hidup karena berkebun dan kebun itu sendiri dianggap merefleksikan kehidupan kita. 

Photo by Gabriel P on Unsplash

Karena dianggap sebagai refleksi kehidupan manusia, berkebun memiliki filosofinya sendiri. Dalam Budaya Jawa, berkebun selama bertahun-tahun dianggap bisa mengajarkan kita empat hal:

Tata 

Tata berarti menata. Ketika menata kebun, kita juga bisa merefleksikannya ke kehidupan diri sendiri sebagai sarana untuk menata diri, hati, pikiran, serta perilaku. Menata juga bisa diartikan menjaga keseimbangan. Dalam hal ini, kita tentunya ingin memiliki kebun dan hidup yang seimbang dan tertata. 

Titi

Titi berarti merintis atau memulai. Berkebun mengajari kita untuk memulai sesuatu yang baik. Kebaikan yang dieksekusi akan membuahkan sesuatu yang indah dan bermanfaat bagi diri dan sesama. Kebun juga akan menghasilkan panen yang baik kalau kita mau mulai mengeksekusi ide kita untuk berkebun. 

Tandur 

Tandur artinya menanam. Inilah essence dari berkebun dan merupakan upaya lanjutan dari Titi. Menanam bibit bisa jadi langkah awal untuk memulai sebuah kebaikan. Dalam proses menanam, kita diharapkan untuk selalu dalam kendali dan present. Sama halnya dalam hidup. Kita butuh punya kendali penuh dan senantiasa mindfull agar bisa menuai hal-hal baik dan indah dalam hidup kita. 

Tukul

Tukul artinya tumbuh. Proses ini mengajarkan kita tentang kesadaran untuk terus tumbuh karena kita pasti mengharapkan menuai panen dari apa yang sudah kita tanam. Begitu pula dengan manusia, kita harus selalu tumbuh menjadi manusia yang lebih baik. Ketika sudah bisa ‘memanen’ hal-hal yang sudah kita tuai, berarti kita juga sudah berhasil melewati terpaan ‘angin’ dan ‘hama’ yang datangnya selalu tidak bisa diduga. 

Berkebun mengajarkan kita untuk menuai kebaikan dalam hidup ini. Nah, mari kita sama-sama berkebun yuk, minimates, agar mendapatkan banyak hal, termasuk pelajaran hidup yang berharga. 

Selamat berproses, minimates! 



Featured image by Sandie Clarke on Unsplash

Leave a comment

Please note, comments must be approved before they are published

Loading...